Gelombang Baru Serbuan Barang China ke RI
Ekonomi & Bisnis

Waspada Gelombang Baru Serbuan Barang China ke RI, Ini Penyebabnya

Seperti diketahui, pertumbuhan ekonomi China tak sesuai bersama dengan ekspektasi. Kondisi ini sesudah itu diperburuk perekonomian di sejumlah negara yang, lebih-lebih sebagian negara dikabarkan mengalami resesi. Seperti Jepang, serta kami akan membahas tentang permainan dari situs https://wisatabatulayang.com/ .

Kondisi ini, diakui dapat mengundang efek domino hingga ke Indonesia. Termasuk, tumpahan barang berasal dari China ke Indonesia

“Resesi Jepang dapat menambah tekanan pada ekspor. Data th. 2023, ekspor TPT (tekstil dan produk tekstil) cuma US$11,74 miliar. Angka ini turun hingga 16%,” kata Redma.

“Pasar Jepang kan sejak lama didominasi China. Barang China yang mulanya ke Jepang dapat banyak dilempar ke Indonesia lagi,” tambahnya.

Karena itu, dia berharap pemerintah serius menanggulangi serbuan barang impor ke pasar domestik.

“Bisa dihindari kecuali Bu Sri (Menteri Keuangan Sri Mulyani) serius beresin bea cukai dan tangkap para pelaku yang terlibat. Trend PHK (pemutusan jalinan kerja) 2 th. terakhir ini kan konsisten bergulir sebab ga tersedia niat Bu Sri Mulyani beresin bea cukai, jadi oknum-oknum di sana malah makin lama menjadi,” cetusnya.

Menurut Redma, Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No 36/2023 berkenaan Kebijakan dan Pengaturan Impor pun belum mengimbuhkan efek berarti. Belum lagi, imbuh dia, peraturan yang baru terbit 11 Desember 2023 lantas ini, kini malah protes, juga berasal dari pengusaha.

“Ini sebab belum satu visi didalam penguatan integrasi industri. Ini kan pemerintah atur impor dibatasi untuk mendorong penyerapan bahan baku di didalam negeri supaya terjadi penguatan integrasi,” sebutnya.

“Jadi baiknya kita semua ikuti pemerintah untuk prioritaskan penggunaan bahan baku didalam negeri. Memang peraturan ini masih tersedia kekurangan yang kudu dilengkapi, tetapi tidak mengubah esensinya untuk memprioritaskan penyerapan bahan baku di didalam negeri,” kata Redma.

Apalagi, lanjut dia, kekuatan mengonsumsi di didalam negeri sesungguhnya masih kuat. Hanya saja, kira-kira 60% pasar domestik dikuasai barang impor ilegal.

“Konsumsi masih cukup kuat. Tapi barang impor masih banjir dan konsisten masuk. Pemerintah serupa sekali belum laksanakan penindakan. Peningkatan deman diisi oleh barang impor ilegal yang sudah menguasai 60% pasar domestik,” tukas Redma.

Kondisi ini, ujarnya, jadi tidak benar penyebab masih berlanjutnya gelombang PHK di didalam negeri.